-->

Iklan Header

Loading...

Meminta Maaf Duluan Takkan Pernah Merendahkan Harga Diri

Meminta Maaf Duluan Takkan Pernah Merendahkan Harga Diri

Pernahkah kalian memiliki sahabat yang saling mengingatkan dalam kebaikan? Sahabat yang menginspirasiku untuk menjadi pribadi yang lebih pemaaf ini sungguh masih kuingat sampai sekarang. Aku, Kanaya dan temanku Ruma menjalin persahabatan saat kami sama-sama bekerja di sebuah perusahaan. Layaknya lem dan perangko, kami begitu dekat.

 Dia menjadi orang pertama yang sering menjadi tempat bertanyaku ketika aku tak paham akan sesuatu. Aku sering bertanya-tanya, apakah yang membuat kami menjadi dekat? Mungkin karena kami berasal dari kota yang sama (Wonogiri) atau mungkin kami lahir pada tahun yang sama atau tempat kerja kami yang hanya bersebelahan. Entahlah, yang pasti aku bersyukur memilikinya.
Tapi, persahabatan memang selalu ada ujiannya. Suatu ketika, manajer menginstruksikan sahabatku tersebut untuk pindah ke ruangan yang letaknya jauh dariku. Hal itu seketika membuatku sedih karena harus berpisah walaupun sebenarnya masih di perusahaan yang sama. Tapi aku takut dia memilki teman baru dan akan melupakanku. 

Baca Juga

  • Strika Anda Mulai Lengket? Gak Perlu Beli Baru, Coba Cara Ini Setrika Lengket Jadi Seperti Baru Lagi
  • Kisah Pilu Menyayat Hati Wanita 73 Tahun Dibuang di Pinggir Jalan oleh Anak, ‘Saya Mati pun Mungkin Dia Tak Akan Menengok’
  • Wajib Tahu, Wanita Hamil Itu Jangan Sampai Sedih Atau Stres Karena Bisa Berbahaya Pada Bayi Dalam Kandungan!
Mungkin itu hanya perasaanku. Sebenarnya dia masih memperlakukanku dengan sangat baik seperti sebelumnya, tapi keegoisanku yang merasa dia mengabaikanku seperti menutup mata hatiku.
Beberapa minggu setelah kepindahannya, mungkin temanku justru merasa ada yang berbeda dariku. Aku menjadi lebih diam ketika dia menemuiku. Dia masih sering menanyaiku tentang sudah makan atau belum. Dia yang selalu menyapaku duluan. Dia masih sering menghampiriku.Tapi sikapku seperti orang yang acuh tak acuh. 

Aku tahu aku yang salah. Hal-hal yang aku khawatirkan sebenarnya berasal dari diriku sendiri. Perubahan yang aku takutkan sebenarnya itu berasal dari diriku sendiri. Bukan temanku yang berubah, tapi justru aku.
Perasaan tak nyaman selalu ada di pikiranku. Bahkan ketika aku tahu bahwa aku salah, aku terlalu gengsi untuk meminta maaf dan memulai pembicaraan. Setiap malam semenjak kepindahannya, aku terus kepikiran akan apa yang akan terjadi esok hari. Aku sungguh tak bisa tidur nyenyak. Hingga suatu hari, temanku Ruma tersebut mengirimiku pesan chat. 

Dia bilang bahwa dia meminta maaf. Mungkin dia berbuat sesuatu yang salah hingga membuatku seperti ini. Dia tanya padaku, sebenarnya apa masalahnya. Dia ingin memperbaikinya. Dia bilang dia selalu kepikiran tentangku. Dia menjadi malas berangkat kerja karena tak tau letak kesalahannya di mana.

Saat membacanya, air mataku menetes begitu cepat. Aku yang salah tapi dia yang meminta maaf. Seketika k balas pesan chat-nya dengan kata-kata yang sama seperti yang dia lakukan bahwa aku yang salah dan aku minta maaf. 

Aku ingin mengakhiri konflik batinku dengan diri sendiri. Aku tak mau kehilangan sahabat baik sepertinya. Esoknya, seperti tak terjadi apa-apa, kami memulai pembicaraan dengan canggung hingga lama-kelamaan suasana mencair dan kami akrab seperti sebelumnya.

Sahabatku sungguh baik dan pemaaf. Dia mengajarkanku bahwa meminta maaf duluan tak akan pernah merendahkan harga diri. Menjadi pribadi yang pemaaf justru akan memperlihatkan betapa kayanya hatimu. Memaafkan akan melegakan hati dan melepaskan beban. Sahabatku, Ruma, terima kasih ya. Maafkan keegoisanku. 

Dan juga, terima kasih telah menjadi salah satu inspirasiku dalam memaafkan. Aku akan selalu mengingatnya.

Sumber: fimela

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Loading...

Iklan Tengah Artikel 1

Loading...

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Loading...